Sabtu, 10 Juli 2021

Eksistensi Perempuan Pada 5 Cerpen Karya M. Shoim Anwar

 

Cerpen pertama yang berjudul “Sorot Mata Syaila”, menceritakan sebuah peristiwa kasus korupsi uang negara yang dilakukan oleh tokoh yang bernama Matalir. Ia sempat melarikan diri menuju Dubai dengan transit di bandara Abu Dhabi. Ketika sampai di bandara tersebut, ia bertemu dengan sosok wanita berpakaian busana khas Arab dengan warna hitam panjang. Seketika laki-laki tersebut terpesona akan keindahan tubuh dan parasnya sehingga ia larut di dalamnya. Syaila namanya, perempuan yang mampu menghipnotis Matalir dan menyadarkan ia akan hal yang dilakukan sebelumnya. Seakan Syaila adalah sebuah petunjuk kiriman Tuhan untuk mengantarkan Matalir padda proses hukum. Ditunjukkan pada cerita ketika Syaila mengajak dan memberi suatu pesan kepada Matalir untuk mengikutinya, Langkah demi langkah ia jalani. Sampai pada akhirnya Syaila mengantarkan Matalir dan menyadarkan pada kenyataan bahwa nyawa kedua istri dan keempat anaknya sedang terancam disana. Bergelantung dengan jeratan leher dan kakinya menggantung seperti kepompong.

Dari cerpen “Sorot Mata Syaila” tersebut, penulis membawakan pesan bahwa setiap tindakan manusia pasti mendapatkan balasannya. Sebab itulah peringatan kepada kita bahwa setiap kejahatan yang dilakukan tidak dibiarkan begitu saja, pasti ada perhitungannya. Yaitu sebuah balasan yang setimpal dengan kejahatan yang ia lakukan. Baik balasan di dunia maupun di akhirat. sekecil apapun dosa yang diilakukan, pasti ada balasannya. Allah maha melihat dan hukum tetap berjalan sesuai ketentuan undang-undang.

Cerpen kedua yang berjudul “Sepatu Jinjit Aryanti”, menceritakan suatu peristiwa pembunuhan seorang petinggi yang semua saksi berada di tangan Aryanti, seseorang menyembunyikan Aryanti dari media.

Cerpen ketiga yang berjudul “Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue”, menceritakan suatu peristiwa hasutan sebuah permasalahan antara Anik, Miske, dan Bamby yaitu antara hakim dengan pelapor. Disini menceritakan bahwa kecurangan seorang hakim yang menjual jabatan demi keuntungan pribadi tanpa memperhitungkan orang lain. Seharusnya seorang hakim harus bersifat adil, bukan untuk menipu.

Cerpen keempat yang berjudul “Tahi Lalat”, menceritakan suatu tokoh pak lurah, istri, dan warga dalam kehidupannya. Pusat perhatian terletak pada istri pak lurah yang sedang digunjing warganya karena didapati sebuah tahi lalat di sebelah kiri dadanya. Dari kalangan anak kecil hingga dewasa mengetahui aib istri pak lurah tersebut. Sampai-sampai anak kecilpun berani menggambarkan secara fisik di atas lembar bahwasannya terdapat titik hitam di dada perempuan yang ia sebut sebagai bu lurah.

Dari cerpen “Tahi Lalat” tersebut, masyarakat sangat berani dalam mengkritik pejabat pada permainan politik dan penipuan rakyat demi keinginan pribadi yang menggebu-gebu. Terkait kalimat pertama yang menuliskan “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” mampu membuat pembaca merasa penasaran dengan gaya bahasa yang sedikit ambigu untuk dimaknai. Hal itu didukung dengan adanya pergunjingan warga yang mengatakan “Tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri”. Siapa sangka bahwa maksud dari pergunjingan itu mengarah pada aib yang dimiliki oleh Pak Lurah beserta istrinya. Semua kalangan baik anak-anak sampai orang dewasa tahu bahwa aib apa yang sudah dilakukan keduanya. Warga pun merasa geram dengan tindakan dan kebijakan pemerintah yang seharusnya memakmurkan masyarakat akan tetapi malah menghancurkan nasib dengan menjual tanah guna untuk dijadikan perumahan. Seharusnya pemerintah sadar akan keperluan dan kebutuhan untuk mencukupi pangan masyarakat. Hal itu mungkin bisa diwujudkan dalam pengembangan lapangan pekerjaan, menjadikan tanah sebagai ladang persawahan, membuat program kesejahteraan masyarakat dan sebagainya. Tapi mengapa tidak pernah berniatan seperti itu? Yang ada hanyalah menghabiskan uang rakyat dan menyesengsarakannya. Janji-janji yang dilontarkan hanya omong kotor namun tidak bisa dipungkiri, pejabat lebih berwenang.

Cerpen kelima yang berjudul “Jangan ke Istana Anakku”, menceritakan suatu peristiwa sebuah keluarga yang mempunyai anak yang ingin pergi ke sebuah istana. Namun bapaknya melarang karena suatu hal. Bapaknya melarang karena memiliki alasan bahwasannya pernah diperlakukan tidak baik disana, sehingga semua itu tidak mau terulang pada anak kesayangannya.

Setelah menjabarkan bagaimana kelima cerpen karya M. Shoim Anwar tersebut, menurut saya penulis hanya mengusung satu tema yang menjadikan perempuan sebaggai tokoh utamanya. Kebanyakan pria akan terpengaruh oleh tubuh wanita, bukan karena dia telanjang, tetapi jika hati wanita sama dengan pikiran pria, maka seluruh tubuh wanita yang terbungkus kain tebal dapat membuat pria mengambil napas. Jadi apa alasan orang melakukan kejahatan? Setiap orang memasuki pintu kehidupan melalui wanita. Kebanyakan orang hidup dalam rahim wanita selama sembilan bulan. Ketika benih jantan membuahi sel telur betina, kehidupan lahir. Di sinilah keajaiban yang sebenarnya terjadi. Perempuan selalu menjadi korban dan penindasan sebagai takdir. Seakan-akan menjadi perempuan itu sebuah dilema sepanjang kenangan. Kita perlu mendorong kebebasan kaum perempuan.

Penggambaran perempuan pada kelima cerpen tersebut sangat berkaitan erat. Berawal dari sebuah cerpen berjudul “Tahi Lalat” yang membuat geger warga akan tahi lalat yang ada di dada sebelah kiri bu lurah yang menyatakan sebuah aib bu lurah istri pak lurah. Kemudian berlanjut pada cerpen yang berjudul “Sepatu Jinjit Aryanti” yang menyembunyikan sosok Aryanti sebuah kasus pembunuhan. Lalu berlanjut pada cerpen berjudul “Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue” dengan sebuah hakim yang tidak bijak. Hingga sosok Matalir yang disadarkan oleh perempuan Bernama Syaila pada cepen “Sorot Mata Syaila” sehingga mampu tersadar akan kesalahannya. Dan pada cerpen berjudul “Jangan ke Istana Anakku” dengan penggambaran bapak yang sangat saying terhadap anaknya. Jika sudah berhubungan dengan wanita, orang akan dibutakan dan ditulikan.

 

Sekian dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Eksistensi Perempuan Pada 5 Cerpen Karya M. Shoim Anwar

  Cerpen pertama yang berjudul “Sorot Mata Syaila”, menceritakan sebuah peristiwa kasus korupsi uang negara yang dilakukan oleh tokoh yang b...